IMG_4306-1024x693.jpg

11 May 2020 Bedah Bariatrik0

Umumnya bedah bariatrik atau dikenal dengan pembedahan obesitas akan dilakukan ketika penumpukan lemak memasuki tahap kronis. Obesitas disebabkan karena asupan kalori lebih banyak daripada pembakaran kalori.

Alhasil kalori yang menumpuk berubah menjadi lemak.  Jika tumpukan kalori tersebut didiamkan dalam waktu lama, akibatnya berat badan mengalami obesitas. Sangat memungkinkan menjangkit penyakit lainnya yang berbahaya seperti menyerang otak dan tulang.

Laporan World Health Organization (WHO)

Semakin hari problematika obesitas meningkat dan menjadi keprihatinan bagi WHO. Obesitas kian menjadi tantangan besar karena potensia menimbulkan penyakit kronis yang berbahaya di dunia. Ternyata penyakit tersebut juga dipicu dari pertumbuhan ekonomi dan industri dalam mencegah pertumbuhan penyakit kronis di dunia.

Obesitas juga dipicu pertumbuhan industri dan ekonomi, serta gaya hidup kurang sehat. Pasalnya setiap orang wajib mengonsumsi nutrisi yang kaya akan serat dan sedikit karbohidrat. Rata-rata orang didunia justru senang mengonsumsi makanan olahan dan melakukan diet tinggi kalori.

Pada tahun 2016 WHO membuat laporan data ditemukan kurang lebih 650 juta penduduk yang telah berusia 21 tahun ke atas mengalami obesitas. Sementara, untuk golongan usia 5 hingga 19 tahun penderita obesitas menyentuh angka 340 juta jiwa.

Menurut riset penelitian Ikatan Dokter Indonesia pada 2010, ditemukan sebanyak 23% orang dewasa yang alami obesitas. Dalam angka tersebut lebih banyak obesitas dialami oleh wanita dibandingkan dengan dengan pria.

Ujung-ujung dari penyakit ini adalah meningkatnya angka kematian penduduk disebabkan penyakit jantung, diabetes, kanker, dan. Jumlah kematian tersebut didapatkan dari komplikasi penyakit yang diderita oleh penderita. Sehingga tidak jarang banyak penderita obesitas yang dianjurkan dokter melakukan operasi atau bedah bariatrik.

Penyebab Obesitas

Obesita dapat terjadi pada individu yang suka mengonsumsi minuman dan makanan yang tinggi kalori. Terlebih lagi pada individu yang jarang berolahraga dan suka tidur-tiduran. Kalori yang menumpuk atau tidak mengalami proses pembakaran bertransformasi menjadi tumpukan lemak.

Akhirnya individu tersebut mengalami pertambahan berat badan yang sangat melesat dan obesitas. Adapun faktor lain menjadi penyebabnya adalah karena ada genetik atau berasal dari keturunan, riwayat penyakit keluarga. Obesitas juga disebabkan karena efek samping dari mengonsumsi obat-obatan.

Pada wanita hamil juga dapat terjangkit obesitas karena obat-obatan dan malas bergerak. Obesitas juga dapat menyerang individu yang memiliki jam tidur kurang. Semakin bertambahnya usia, potensi seseorang mengalami obesitas juga menjadi lebih terbuka. Dapat pula disebabkan karena permasalahan medis tertentu atau penyakit lainnya.

Diagnosis Penyakit

Penderita obesitas kebanyakan dialami oleh orang dewasa apabila indeks massa tubuh atau IMT menunjukkan lebih dari 25. Adapun perhitungan ini diperoleh dari membandingkan bobot tubuh dengan tinggi badan.

Hasil dari IMT digunakan agar mengetahui berat badan individu apakah ideal, normal, kurang, atau alami obesitas. Penanganan awal obesitas bertujuan untuk mempertahankan dan membuat berat badan normal dan tetap sehat. Sementara, pada obesitas  akut dianjurkan untuk melakukan bedah bariatrik.

Apabila seseorang didiagnosa mengalami obesitas maka direkomendasikan dokter agar memperbanyak aktivitas fisik. Selain itu, memberikan pola makan yang baik dengan konsumsi makanan mengandung serat

Ada pula metode pengobatan obesitas lainnya yang sering diterapkan bagi pasien yakni konsumsi obat-obatan untuk menurunkan berat badan. Penderita obesitas juga akan dianjurkan mengikuti bimbingan konseling serta support group agat atasi masalah psikologis karena berat badan.

Penyakit Lain Dari Penderita Obesitas

Penumpukan lemak dalam tubuh didiamkan begitu saja dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang serius. Obesitas juga mengakibatkan berbagai masalah psikologi dan gangguan kualitas hidup. Bedah bariatrik jika tidak segera dilakukan dapat menjangkit penyakit berbahaya berikut.

1.Osteoarthritis

Penyakit osteoarthritis adalah masalah persendian yang membuat rasa sakit dan kaku. Adapun tubuh penderita akan bekerja keras agar membuat tekanan persendian dan juga tulang rawan. Osteoarthritis yang dibiarkan berlama-lama mengakibatkan peradangan hingga kanker tulang.

2.Kanker

Dalam dunia kedokteran menilai sel-sel lemak yang terlalu menumpuk membuat tekanan berkurang pada area yang rawan terkena kanker. Biasanya sel kanker menyerang payudara, ginjal, kolon, kandung kemih, dan endometrium. Berat badan yang berlebihan juga membuat penyebaran sel kanker bertambah cepat.

3.Penyakit jantung

Penyakit berbahaya yang biasanya ditimbulkan dari obesitas adalah penyakit jantung. Penderita obesitas umumnya memiliki tingkat kolesterol yang tinggi, tekanan darah dan kadar gula darah tinggi. Apabila menderita ketiga kondisi diatas menyebankan jantung harus bekerja lebih berat. Apabila dibiarkan dalam kondisi tersebut, jantung akan mengalami gagal fungsi.

4.Diabetes melitus

Di Indonesia terdapat 87 persen dari penderita diabetes juga mengalami obesitas. Kelebihan berat badan atau obesitas juga mengakibatkan perubahan sifat sel yang membuat hormon insulin rusak. Efeknya tubuh tidak mampu mendeteksi kadar gula darah. Jika tidak segera ditangani mengakibatkan terjadinya diabetes melitus tipe 2.

5.Tekanan darah tinggi

Berat badan yang semakin meningkat menyebabkan tekanan darah bertambah tinggi secara otomatis. Sebab, kinerja jantung sebagai organ memompa darah bekerja lebih keras. Untuk mencegah darah tinggi sebaiknya segera lakukan diet dan olahraga seimbang. Dari tekanan darah tinggi tersebut dapat mengakibatkan stroke dan serangan jantung.

6.Sleep apnea

Biasanyan penderita obesitas akan alami menumpukan lemak pada bagian leher. Penumpukan yang dibiarkan begitu saja membuat aliran udara semakin sempit dan menyebabkan bernafas semakin sulit. Sehingga tidak jarang, penderita obesitas selalu mendengkur ketika sedang tidur.

Apabila mendengkur tidak kunjung hilang atau berlangsung lama, sebaiknya konsultasikan kepada dokter. Sebab, bahaya akan membuat napas berhenti secara total dan tiba-tiba atau dikenal dengan sleep apnea. Sleep apnea sendiri dikatakan sebagai kondisi seseorang bernafas dengan jeda saat tertidur dan tidak ia sadari.

7.Stroke

Bobot tubuh yang sangat berat juga berpotensi terkena stroke. Serangan stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak tiba-tiba terhenti. Akibat buruknya sel-sel otak perlahan akan mati. Adapun bahaya lainnya memicu tekanan darah naik mengakibatkan pembuluh darah pecah.

Jika kondisi tersebut terjadi, pecahnya pembuluh darah membentuk gumpalan darah kental. Gumpalan tersebut tentu menghambat aliran darah ke seluruh tubuh dan ke otak.

Bedah Bariatrik Tidak Hanya Menguruskan Badan

Bedah ini dikenal oleh masyarakat umum sebagai pembedahan obesitas untuk orang yang memilik bobot tubuh lebih dari 100 kg. Tujuan dilakukannya operasi bariatrik guna memperbaiki sistem metabolisme pada tubuh. Tidak hanya bertujuan sebagai pengurangan berat badan tetapi menghindari resiko penyakit lain karena obesitas.

Cara Pembedahan Obesitas

1.Gastric Bypass

Gastric Bypass nama kedokterannya adalah Roux-en-Y adalah metode untuk menstapler lambung. Adapun manfaatnya untuk membuat kantung lambung lebih kecil caranya menembus bagian lambung dan sedikit usus. Setelah melalui operasi ini pasien akan cepat kenyang dan membuat porsi makan menjadi berkurang.

2.Mini Gastric Bypass

Mini Gastric Gypass (MGB) disebut juga One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB) merupakan pembedahan sederhana daripada Gastric Bypass. Efek pembedahan tersebut cukup bertahan lama dan mampu menekan pola makan penderita obesitas.

3.Sleeve Gastrectomy

Terakhir adalah sleeve gastrectomy yakni pembedahan bariatrik dilakukan dengan cara memperkecil ukuran lambung menjadi bentuk tabung. Tujuan operasi tersebut untuk membuat pola makan pasien berkurang dan menjadi cepat kenyang.

 


otto-bedah-bariatrik.jpg?time=1596543443

11 May 2020 Bedah Bariatrik0

Banyak orang tidak mengontrol pola makan hingga berakhir obesitas atau berat badan berlebihan. Memang dalam masyarakat sendiri menilai memiliki tubuh yang gemuk bukan masalah asalkan sehat. Tetapi bagaimana jika mengakibatkan dampak buruk hingga Anda terpaksa melewati bedah obesitas.

Obesitas dapat dihindari dengan olahraga teratur dan mengurangi konsumsi makanan berlemak. Obesitas juga disinyalir dapat menimbulkan penyakit lainnya yang sulit diketahui sejak dini.

Bedah Obesitas Guna Pencegahan Penyakit Lain

Faktanya obesitas dapat menimbulkan penyakit lain yang berbahaya bagi kesehatan bahkan nyawa Anda. Penting untuk diketahui bedah obesitas dilakukan sebagai upaya pencegahan berbagai penyakit mematikan seperti dibawah ini.

  1. Diabetes melitus

Berdasarkan data kesehatan Indonesia ditemukan lebih dari 87 persen penderita diabetes memiliki bobot tubuh berlebihan atau obesitas. Adapun bayang-bayang bahaya obesitas yang patut diwaspadai yakni perubahan sifat sel menyebabkan hormon insulin rusak.

Dampak dari rusaknya hormon insulin tidak bisa mendeteksi kadar gula dalam darah. Apabila kondisi ini dibiarkan begitu saja akan menaik tingkatannya jadi diabetes melitus tipe 2.

  1. Kanker

Para ahli kesehatan berasumsi sel-sel lemak terlalu banyak mampu menekankan atau mengurangi hormon yang merangsang pertumbuhan sel kanker. Terlebih lagi bagian tubuh yang rawan disinggahi sel kanker seperti kolon, payudara, ginjal, endometrium, dan kandung kemih.

Faktanya bagi penderita kanker sendiri dianjurkan untuk berolahraga untuk diet. Sebab, bobot tubuh berlebihan dan tidak direm bisa membuat penyebaran sel kanker lebih cepat.

  1. Tekanan darah tinggi

Saat berat tubuh meningkat atau semakin besar otomatis tekanan darah juga bertambah tinggi. Kondisi tersebut disebabkan karena kinerja jantung yang memompa darah lebih keras. Dalam hal ini sangat penting untuk melakukan diet sebagai pencegahan darah tinggi.

Jika berat badan tidak segera dikurangi atau dicegah bisa menimbulkan berbagai komplikasi penyakit. Sangat rawan terserang komplikasi penyakit seperti stroke dan penyakit jantung. Tidak heran bagi penderita obesitas diserang berbagai penyakit yang sulit disembuhkan.

  1. Penyakit jantung

Penyakit jantung sangat rawan terjadi bagi orang yang kelebihan berat badan atau obesitas.  Anda tentu jarang menemui orang kurus terkena serangan jantung. Pasalnya, penderita obesitas memicu kolesterol tinggi, kadar gula darah tinggi, dan tekanan darah yang tinggi.

Ketiga serangan penyakit karena obesitas ini juga membuat beban jantung lebih berat. Sebab, jantung harus bekerja lebih keras dan jika dibiarkan berlama-lama menyebabkan kegagalan fungsi jantung. Sebaiknya segera diet sebelum terlambat!

  1. Stroke

Stroke merupakan kondisi yang terjadi saat aliran darah menuju bagian otak terhenti. Dampak dari terhambatnya aliran darah ke otak mengakibatkan sel-sel otak mati. Hakikatnya bahaya obesitas memicu tekanan darah naik hingga menyebabkan pembuluh darah pecah.

Apabila hal ini terjadi tentu akan membentuk gumpalan darah yang semakin menghambat. Kemudian pada akhirnya menghalangi aliran darah ke otak.

  1. Sleep apnea

Secara umum penderita obesitas mengakibatkan lemak pada bagian leher semakin menumpuk. Kebanyakan lemak membuat saluran udara semakin sempit sehingga penderita kesulitan bernafas.

Hal ini menyebabkan saat tidur orang yang kelebihan berat badan akan mendengkur. Bahayanya lagi napas dapat berhenti total secara tiba-tiba atau disebut sleep apnea. Adapun sleep apnea adalah kondisi ketika seseorang beberapa kali jeda nafas ketika tidur tanpa disadari.

  1. Osteoarthritis

Penyakit osteoarthritis merupakan masalah persendian yang menciptakan raa sakit dan juga kaku. Tubuh penderita obesitas akan bekerja keras untuk menimbulkan tekanan pada persendian dan tulang rawan.

Jika dibiarkan berlama-lama tidak baik untuk kesehatan sendi dan tulang rawan karena berpotensi mengalami peradangan. Penderita obesitas yang juga terkena osteoarthritis lebih mudah.

Obesitas Dapat Menurunkan Kepadatan Tulang

Ada sebuah studi kedokteran di negara barat yang menunjukan penderita obesitas dapat mengurangi kepadatan tulang. Kondisi ini menyebabkan risiko patah tulang lebih besar. Memang tulang manusia memiliki kemampuan memperbarui jaringannya setiap saat.

Caranya melalui penghancuran jaringan tulang yang telah rusak diganti sel osteoklas. Hasil akhirnya adalah membangun jaringan tulang baru. Apabila proses penghancuran dan pembentukan tulang berjalan seimbang akibatnya semakin kuat dan padat.

Lain halnya pada penderita obesitas, kecepatan memperbarui jaringan tulang tersebut tidak seimbang. Seperti yang dilansir oleh situs healthline(dot)com, kecepatan pembaharuan jaringan pada tulang akan berkurang bagi kelompok individu yang obesitas.

Sedangkan, bagi penderita obesitas proses penghancuran jaringan tulang mengalami peningkatan hingga 3 kali lipat lebih cepat pada kelompok yang obesitas. Tingginya penghancuran jaringan tulang daripada pembentukan mengakbatkan kepadatan tulang menurun. Sehingga tulang mudah padah dan cedera.

Dampak Obesitas Pada Tulang

Obesitas sangat rawan terkena osteosarcopenic dimana kondisi kepadatan tulang makin memuruk. Sebab, bobot dari otot dan daging diliputi dengan lemak yang padat dalam tubuh. Keadaan seperti ini biasanya dialami orang lanjut usia dan dewasa.

Berdasarkan keterangan dari Dr. Michael Drey, M.Sc, ahli osteosarcopenia (Medizinische Klinik und Poliklinik IV) Universitas Munchen. Obesitas osteosarcopenic akan menjadi perhatian penting dunia kedokteran pada masa mendatang.

Pasalnya, obesitas semacam ini menggabungkan tiga kondisi kesehatan yakni obesitas, osteoporosis (massa tulang hilang) dan sarcopenia (massa otot hilang).  Obesitas tidak hanya beresiko menyebabkan serangan jantung dan penyumbatan pembuluh darah.

Obesitas lebih rentang mengakibatkan permasalahn tulang lebih kompleks. Dalam dunia kedokteran memang banyak dilakukan penelitian terkait dampak obesitas pada metabolik tubuh. Namun, tetap saja persoalan obesitas tulang bukan masalah sepele.

Jaringan lemak berefek negatif menyerang otot, mengurangi kepadatan tulang, dan menimbulkan peradangan. Terlebih lagi lemak dalam perut harus segera dihilangkan karena lebih beracun daripada lemak yang berada pada bagian lain.

Agar obesitas terhindari sebaiknya segera merubah gaya hidup. Terutama untuk mencegah terjadinya obesitas osteosarcopenic dimana keseimbangan tubuh tidak stabil. Sehingga membuat risiko perusakan jaringan otot dan tulang lebih kecil. Jangan lupa jaga asupan makanan bergizi seimbang diiringi olahraga teratur.

Bedah Obesitas Tidak Hanya Menguruskan Badan

Bedah ini dikenal juga dengan bedah bariatrik adalah pembedahan yang dilakukan pada orang gemuk. Adapun tujuannya agar memperbaiki sistem metabolisme tubuh. Bedah tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi berat badan tetapi menghindari resiko akibat obesitas.

Cara Pembedahan Obesitas

1.Gastric Bypass

Gastric Bypass lebih dikenal dengan sebutan Roux-en-Y merupakan cara menstapler lambung. Tujuannya membuat kantung lambung menjadi lebih kecil dengan menembus bagian lambung dan sedikit bagian usus.

Setelah operasi ini dilewati pasien, akan merasakan cepat kenyang sehingga porsi makan berkurang. Hasilnya penyerapan kalori dari makanan tidak terlalu banyak.

2.Mini Gastric Bypass

Mini Gastric Gypass (MGB) dalam dunia kedokteran dikenal dengan singkatan OAGB atau One Anastomosis Gastric Bypass. Mini Gastric Bypass adalah proses bedah lebih sederhana dibanding Roux-en-Y.

Meskipun dinilai sebagai pembedahan sederhana, tetapi dampaknya lebih bertahan lama. Sementara itu MGB juga lebih efektif untuk penderita obesitas menekan pola makannya.

3.Sleeve Gastrectomy

Sleeve Gastrectomy merupakan pembedahan yang dilakukan dengan mengurangi ukuran lambung ke dalam bentuk tabung. Setelah menjalani operasi sleeve gastrectomy dapat dipastikan pola makan pasien menjadi lebih sedikit karena merasa cepat kenyang.

 


bedah-obesitas-bedah-bariatrik-4-1.jpeg?time=1596543443

10 May 2020 Bedah Bariatrik0

Tindakan berupa operasi bariatrik masih belum banyak dikenal masyarakat. Namun para penderita obesitas tingkat parah sendiri sudah banyak yang memilih lakukan tindakan ini. Bedah bariatrik menjadi langkah lanjutan dengan tujuan menurunkan berat badan lebih cepat. Hasil dari operasi ini beragam dan sangat bergantung terhadap proses operasi, perubahan gaya hidup pasien, serta faktor lainnya.

Mengenal Apa Itu Operasi Bariatrik

Dari segi pengertian, arti dari operasi bariatrik berupa tindakan operasi pembedahan di bagian tubuh tertentu dengan tujuan utama menurunkan berat badan. Prosedur ini dilakukan sebagai tindakan lanjut atas masalah gangguan berat badan berlebih atau obesitas yang tidak bisa diobati melalui perubahan pola makan dan aktivitas olahraga.

Tentu selain menjadi tindakan lanjut, operasi ini cukup memakan biaya yang tidak sedikit. Semua tergantung di mana pasien menjalani operasi. Operasi ini harus dibimbing dan diawasi dokter yang khusus menangani bedah bariatrik juga dokter ahli gizi. Biasanya untuk peratama dokter akan berusaha dengan cara alami lebih dulu kepada pasien obesitas.

Sehingga sangat berhubungan dengan tingkatan keparahan obesitas yang diderita pasien. Tingkat keparahan tersebut bisa dihitung melalui besar indeks massa tubuh. Rumusnya berupa berat badan yang dibagi dengan kuadrat tinggi tubuh.

Misalnya tinggi badan 1,7 meter, kemudian berat badan mencapai 100 kilogram, maka 100 : (1,7 x 1,7) = 34,6. Hasil tersebut masuk dalam golongan obesitas tingkat 2. Lebih jelasnya mengenai tingkatan obesitas ialah:

  • Berat terlalu rendah: Di bawah 18,5
  • Berat normal: 18,5 – 22,9
  • Berat berlebih: 23 – 24,9
  • Obesitas tingkat 1: 25 – 29,9
  • Obesitas tingkat 2: 30 – 37,4
  • Obesitas morbid: Di atas 37,5

Saat obesitas termasuk dalam tingkatan obesitas tingkat 2 dan obesitas morbid yang sangat memungkinkan penderita mengalami banyak gangguan kesehatan sehingga membuat aktivitas sangat terganggu, tindakan bariatrik biasanya sudah disarankan. Apalagi bila kondisi-kondisi yang mendukungnya. Seperti penderita obeistas terlihat kesulitan menjalankan program diet.

Dengan terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman berkalori tinggi serta dalam jumlah melebihi kebutuhan kalori setiap harinya, seorang penderita obesitas cenderung kesulitan menjalankan diet yang umumnya berupa pengaturan menu makanan menjadi lebih sehat dan dalam jumlah jauh lebih sedikit.

Belum lagi sebagian besar mereka yang terkena obesitas tidak banyak bergerak aktif karena kesulitan untuk bergerak. Atau sangat cepat merasa lelah. Ditambah dengan gangguan kesehatan atau penyakit berbahaya yang kerap menghantui penderita obesitas seperti penyakit jantung, diabetes, dan lain-lain.

Macam-Macam Bedah Bariatrik

Operasi bariatrik sendiri memiliki lebih dari satu macam, yaitu:

1. Gastric Bypass

Tindakan bariatrik ini memiliki tujuan utama dalam mengurangi ruang tempat atau tampung makanan di bagian lambung. Operasinya berupa pembedahaan yang memisahkan organ lambung menjadi dua bagian. Bagian atas dibuat menjadi lebih kecil dibanding bagian bawah. Lalu pada organ usus halus akan dilakukan pemotongan.

Bagian usus akan dibuat menjadi. lebih pendek dan akan disambungkan dengan bagian pada lambung yang kecil. Karena tempat tampungan makanan lebih kecil, maka jumlah makanan yang bisa dikonsumsi jauh lebih sedikit. Begitu pun dengan penyerapan nutrisi di bagian usus halus yang akan berkurang.

2. Sleeve Gastrectomy

Berikutnya yang kedua adalah bariatrik sleeve gastrectomy. Tindakan bariatrik ini berupa membuang sebagian besar organ lambung atau sekitar 75 – 80% bagian. Kemudian sisa organ lambung akan dibentuk hanya sebesar dan sepanjang buah pisang berukuran sedang. Sama seperti bariatrik sebelumnya, tujuan sleeve gastrectomy juga untuk perkecil tempat tampung makanan.

Maka penderita dan pasien obesitas akan lebih cepat atau mudah merasa kenyang karena dari segi besar lambung jauh lebih kecil. Pengurangan makanan yang dikonsumsi setiap harinya bisa sampai berkali-kali lipat.

3. Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch

Tindakan ini berupa operasi bedah yang memotong organ lambung. Setelah itu akan disambungkan dengan organ usus halus bagian akhir. Operasi ini akan membuat sistem pencernaan normal-normal saja. Asupan yang dikonsumsi pasien masih tetap menyampur dengan asam lambung, enzim pencernaan, serta cairan empedu. Namun penyerapan nutrisinya yang jadi berkurang.

4. Adjustable Gastric Band

Untuk tindakan bariatrik ini, dokter akan memasang sebuah alat ikat yang bentuknya semacam cincin dan bisa diatur besar ikatannya. Alat ini akan dipasangkan dengan besar ikatan yang bisa disesuaikan pada organ lambung. Tujuannya pun sama, agar pasien lebih mudah merasa kenyang dan membatasi asupan.

Fungsi dan Manfaatnya dalam Atasi Obesitas

Bukan hanya menurunkan berat badan, ada fungsi lainnya yang akan didapatkan dari tindakan bariatrik. Fungsi dan manfaat tersebut meliputi:

1. Menurunkan Berat Badan Secara Signifikan

Sudah jelas bahwa permasalahan paling utama dari obesitas ialah berat badan berlebih. Maka fungsi utama dilakukannya bariatrik ini untuk menurunkan berat badan secara lebih signifikan dan memakan waktu yang lebih cepat. Bila program diet dan perubahan aktivitas secara alami tidak lagi manjur, maka operasi ini bisa menjadi pilihan tepat.

Terlebih bila memang dianjurkan karena berat badan yang berlebih memicu gangguan kesehatan. Atau berada di tingkat yang parah.

2. Meningkatkan Angka Harapan Hidup

Fungsi bedah bariatrik selanjutnya ialah peningkatan angka harapan hidup. Menurut peneliti dan ahli kesehatan, para penderita obesitas yang telah melakukan operasi bariatrik memiliki harapan hidup yang lebih tinggi.

Memang bila dibandingkan dengan mereka yang tidak menjalankannya, tentu hasil tindak lanjut kana menberi hasil yang sekaligus menciptakan banyak perubahan. Sebab, penurunan berat badan sangat memungkinkan terjadi disertai kesadaran tinggi untuk menjaga berat badan.

3. Dapat Mencegah dan Membantu dalam Proses Pengobatan

Operasi satu ini sering diandalkan dalam bagian dari proses pengobatan beberapa penyakit yang berhubungan dengan kondisi obesitas.  Di antaranya diabetes tipe 2, sleep apnea (gangguan tidur cukup parah), tekanan darah tinggi yang juga memicu banyak penyakit berbahaya lain, penyakit asam lambung, gejala gangguan kesehatan akibat kolesterol tinggi, dan penyakit perlemakan hati.

Selain itu bisa membantu dalam mengatasi gangguan penyakit lutut atau sendi yang diakibatkan kelebihan berat badan dan tergolong cukup parah.

4. Meningkatkan Kualitas Hidup

Fungsi terakhir adalah dapat meningkatkan kualitas hidup. Pasien obesitas umumnya memiliki gangguan fisik dan mental yang aman dipicu karena kondisi obesitas. Dengan menjalani tindakan bedah, maka mereka memiliki semangat untuk memiliki berat badan lebih ideal.

Kemudian akan menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Rasa percaya diri meningkat yang membuat interaksi dan berkomunikasi dengan banyak orang lebih lancar. Tidak hanya itu, tetapi akan menolong para pasien obesitas yang mengalami gejala depresi dan gangguan kecemasan.

Ada beberapa risiko ketika seseorang menjalani bedah bariatrik dan efek jangka panjang yang bisa terjadi. Maka dari itu sangat disarankan untuk operasi bariatrik di tempat terpercaya dan ditangani dokter bedah yang benar-benar memahami tindakan ini. Selain itu bimbingan dokter gizi serta dokter spesialis yang berhubungan dengan gangguan kesehatan tertentu (bila mengalami) juga tidak kalah berperan penting.


Bedah-bariatrik.jpeg?time=1596543443

10 May 2020 Bedah Bariatrik0

Memiliki berat badan berlebih atau sering disebut obesitas ini masih banyak yang menganggapnya sebagai satu hal wajar. Sebab penderita besitas di dunia sendiri jumlahnya sangat tinggi dan bagi sebagian terlihat baik-baik saja tanpa masalah. Mari lebih dalam bedah obesitas yang sebenarnya jadi sumber berbagai masalah kesehatan, hingga menjadi penyebab kematian.

Seseorang yang Menderita Obesitas

Bukan sekadar memiliki berat yang mencapai batas maksimal, seseorang yang tergolong menderita obesitas juga umumnya mengalami beberapa gejala gangguan kesehatan. Namun tidak sedikit yang mengabaikan gejala-gejala tersebut. Di antaranya sebagai berikut:

  • Indeks Massa Tubuh Melampaui Batas

Untuk memastikan seseorang dalam kondisi obesitas, langkah paling dasar ialah dengan melakukan check up ke dokter yang berupa menghitung indeks massa tubuh. Rumusnya ialah berat badan yang dibagi dengan kuadrat tinggi tubuh. Misalnya tinggi badan 1,7 meter, kemudian berat badan mencapai 100 kilogram, maka 100 : (1,7 x 1,7) = 34,6.

Hasil tersebut masuk dalam golongan obesitas tingkat 2. Lebih jelasnya mengenai tingkatan obesitas berupa:

Berat terlalu rendah: Di bawah 18,5

Berat normal: 18,5 – 22,9

Berat berlebih: 23 – 24,9

Obesitas tingkat 1: 25 – 29,9

Obesitas tingkat 2: 30 – 37,4

Obesitas morbid: Di atas 37,5

  • Kadar Kolesterol dan Gula Darah Terlalu Tinggi

Penderita obesitas umumnya memiliki kadar kolesterol yang cukup hingga sangat tinggi. Begitu pun dengan kandungan gula darah dalam tubuh. Maka sangat memungkinkan mereka yang berada di kondisi obesitas terserang penyakit diabetes.

  • Hormon Tiroid Tidak Seimbang

Kondisi obesitas juga bisanya membuat kondisi hormon tidak normal atau terganggu. Khususnya pada hormon tiroid yang berperan penting dalam menunjang sel-sel dalam tubuh kita. Terganggunya hormon tiroid ini bisa menimbulkan berbagai penyakit, salah satunya kanker tiroid.

  • Mengalami Gangguan Kesehatan dan Aktivitas

Seseorang yang dalam kondisi atau menderita obesitas akan mudah mengalami gangguan kesehatan. Serta kesulitan menjalankan aktivitas. Seperti lebih mudah lelah, sulit bergerak, sering sesak napas, dan banyak lagi.

Bahkan ketika seseorang mencapai obesitas tingkat parah seperti morbid, kondisi pisikis dan mental bisa ikut terganggu seperti mengalami depresi.

Bedah Obesitas dengan Memahami Penyebabnya

Ada banyak penyebab seseorang bisa terkena obesitas. Penyebab-penyebab tersebut meliputi:

1. Faktor Genetik

Penyebab pertama ialah faktor genetik. Jika memiliki orang tua dengan berat badan berlebih, baik salah satu, ataupun keduanya, sangat memungkinkan anak pun menderita obesitas sejak dini. Ini menjadi penyebab yang cukup sulit ditangani atau biasanya membutuhkan program ketat dalam menurunkan berat badan. Berhubungan dengan tidak normalnya proses pembakaran kalori tubuh.

2. Efek Samping Obat-Obatan

Mengonsumsi beberapa jenis obat bisa memicu obesitas. Obat-obatan yang kerap membuat seseorang jadi terkena obesitas di antaranya antidpresan, pil KB, obat kejang, obat untuk hormon, dan lainnya.

3. Pola Makan dan Gaya Hidup Tidak Sehat

Penyebab obesitas satu ini menjadi penyebab yang juga cukup tinggi. Tidak bisa dipungkiri seiring berjalannya waktu, kita sulit untuk menolak dan tidak terbawa arus pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Hal ini berhubungan dengan perkembangan zaman serta kemajuan teknologi.

Hidup serba praktis dan efisien pun membuat sebagian besar dari kita menjalani pola makan dan gaya hidup tidak sehat. Contoh sederhananya, kemunculan minuman racikan dengan kadar gula tinggi yang mudah dipesan, makanan berbahan dasar daging dan mengandung kolesterol tinggi, juga penggunaan gadget yang membuat kita sulit tidur di jam yang seharusnya.

4. Bertambahnya Usia

Bila bedah obesitas lebih dalam lagi, bertambahnya usia sebenarnya menjadi penyebab yang banyak juga menimbulkan obesitas. Karena semakin bertambah usia, semakin membuat kita kurang produktif dan mengurangi aktivitas.

5. Penyakit Tertentu

Beberapa penyakit seperti sindrom cushing dan sindrom prader-willi biasa memicu obesitas.

6. Kehamilan

Penyebab lainnya ialah karena sedang hamil. Kehamilan ini bisa memicu terkena obesitas karena umumnya wanita yang sedang hamil dari segi hormon sedang tidak stabil, nafsu makan pun lebih tinggi, serta sebagian memang harus meningkatkan berat badan demi kesehatan bayi dalam kandungan. Ditambah aktivitas ibu hamil yang terbatas.

7. Pengobatan dan Langkah Penanganan

Bagaimana dengan pengobatan bagi penderita obesitas? Apakah ada langkah awal yang bisa dilakukan? Lebih jelasnya seputar pengobatan bisa dilihat di bawah ini.

8. Mengubah Pola Makan dan Gaya Hidup

Pengobatan atau cara mengatasi yang paling dasar bila tergolong memiliki berat badan berlebih dan obesitas tingkat awal ialah dengan mengubah pola makan serta gaya hidup. Mengganti menu makanan dengan bahan-bahan sehat, rendah lemak, dan rendah kolesterol.

Kemudian mengubah gaya hidup dengan beristirahat di jam yang seharusnya, tidur berkualitas, tidak berkegiatan yang jelas merugikan tubuh kita, rutin membersihkan tubuh dan lingkungan, juga rutinitas yang tergolong sehat seperti meminimalisir berada di kawasan tinggi pencemaran udara.

1. Meningkatkan Aktivitas Fisik

Berikutnya ialah dengan meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari. Seperti lebih aktif bergerak dan melakukan olahraga rutin minimal 1 jam setiap pagi dan sore. Mengganti rutinitas dengan kegiatan fisik aktif seperti memilih lebih banyak berjalan kaki ke tempat-tempat tertentu. Misalnya bila lokasi kantor, tempat kerja, sekolah, dan kampus yang masih memungkinkan diakses dengan jalan kaki.

2. Konsultasi dan Bimbingan Secara Pisikis

Penderita obesitas sangat disarankan untuk melakukan konsultasi dan meminta bantuan medis dalam program penurunan berat badan. Apalagi bila memang mengalami gangguan kesehatan fisik maupun mental yang dipicu oleh obesitas.

3. Operasi Bariatrik

Pengobatan terakhir yang bisa ditempuh sekaligus tindakan lanjut ialah menjalani operasi bariatrik. Operasi ini berhubungan dengan perubahan sistem pencernaan yang mana bertujuan untuk membatasi jumlah asupan yang masuk ke tubuh. Sehingga jumlah kaloriyang dikonsumsi setiap harinya akan berkurang.

Operasi ini sebagai tindakan lanjut yang biasanya disarankan oleh dokter bila cara-cara pengobatan alami di atas tidak memberikan hasil sesuai. Atau jika pasien merupakan penderita obesitas tingkat parah yang biasanya disertai gangguan kesehatan lain yaitu diabetes dan hipertensi.

Ada pun macam-macam operasi bariatrik yaitu bypass lambung,  laparoscopic adjustable gastric banding, gastric sleeve, dan biliopancreatic diversion with duodenal switch.

Perlu diingat, semua langkah pengobatan, penanganan, serta tindakan dalam mengatasi berat badan berlebih atau obesitas ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Diperlukan juga sikap disiplin, konsisten, dan komitmen yang kuat agar semuanya berjalan lancar dan memberi hasil sesuai harapan. Maka penting sekali menguatkan mental dan mengatur kondisi mental dalam menghadapinya.

Untuk bedah obesitas secara mendalam dan mendapat arahan tepat dalam mengatasi obesitas, Anda bisa menghubungi dokter ahli gizi dan dokter bedah bila ingin mendapat tindakan lebih lanjut. Anda harus lebih dulu berkonsultasi dan mengikuti arahan serta anjuran dokter ahli gizi, baru menjalani tindakan lanjut bila memang disarankan untuk dilakukan.


Bedah-bariatrik.jpeg?time=1596543443

5 September 2019 Bedah Bariatrik0

Obesitas atau kegemukan merupakan suatu penyakit, dengan demikian anda tidak mungkin gemuk dan sehat sekaligus. Hal ini dapat dilihat dari fakta statistik bahwa orang gemuk akan memiliki harapan hidup yang lebih pendek, serta penyakit tambahan (Diabetes, Penyakit Jantung Koroner, Stroke) yang muncul lebih awal dari orang kurus.

Pada kegemukan yang berat, ada cara untuk membantu terhindar dari fakta statistik tadi, yakni dengan cara tindakan pembedahan. Dengan pembedahan laparoskopik dapat dilakukan modifikasi saluran cerna sehingga:

1. Rasa lapar menurun drastis

2. Makan sedikit (1-2 sendok) cenderung timbul rasa kenyang

3. Kalori yang terlanjur masuk akan mengalami hipoabsorbsi atau penyerapan yang lebih sedikit (metoda bariatrik tertentu)

4. Penyakit Diabetes, Hipertensi, Hiperkolesterolemia pada kebanyakan kasus akan menghilang, bahkan sebelum berat badan mengalami penurunan.

Walaupun terdengar menyeramkan, namun ada beberapa faktu tentang operasi bariatrik:

1. Tidak lebih berbahaya dari operasi pengangkatan kandung empedu

2. Rata-rata dapat pulang pada hari kedua setelah operasi

Rata-rata setelah operasi kembali ke ruang perawatan biasa (bukan ICU)


About Us


Digestihealth merupakan penyatuan dari usaha memberikan pelayanan bedah digestif yang baik dengan cara menyatukan pengetahuan dan kemampuan.

Usaha memperdalam ilmu bedah digestif juga dilakukan dengan memperdalam bidang masing-masing agar bidang yang didalami tidak terlalu luas.

Recent post


Follow us

Design & Develpment by ROYANRM.COM

Chat Dokter Sekarang